akom-internasional.ac.id/, Jakarta, 28 Februari 2025 – Modus penipuan berkedok paket gratis kembali marak terjadi di Indonesia. Kali ini, jaringan pelaku yang disebut-sebut beroperasi dari Kamboja mulai menyasar sejumlah wilayah, terutama di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera Utara (Sumut). Modus ini memanfaatkan teknologi digital dan celah keamanan data masyarakat yang bocor di berbagai platform online.
Kasus ini bermula dari pesan singkat maupun chat di aplikasi WhatsApp yang berisi pemberitahuan bahwa penerima pesan mendapatkan paket gratis dari perusahaan logistik ternama. Dalam pesan tersebut, penerima diarahkan untuk mengklik tautan tertentu atau mengunduh aplikasi guna melacak status paket mereka.
Begitu tautan diakses, korban akan diarahkan ke situs palsu yang tampilannya sangat mirip dengan website resmi jasa pengiriman. Di sinilah para pelaku mulai mengumpulkan data-data pribadi, termasuk nama lengkap, alamat, nomor telepon, hingga data perbankan.
Berdasarkan hasil penelusuran dari tim keamanan siber Indonesia, diketahui bahwa sindikat penipuan ini dikendalikan dari Kamboja. Para pelaku memanfaatkan teknologi VPN dan server luar negeri untuk menyamarkan lokasi asli mereka.
Bahkan, beberapa pelaku yang tertangkap di Indonesia mengaku hanya sebagai ‘operator lapangan’ yang diperintah langsung oleh koordinator di Kamboja melalui aplikasi komunikasi terenkripsi.
“Modus seperti ini bukan baru, tapi kini semakin masif dengan menyasar wilayah di luar Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera Utara karena dianggap lebih mudah menjebak korban yang minim literasi digital,” ujar seorang pakar keamanan siber dari ID-CERT.
Terdapat beberapa alasan mengapa ketiga wilayah ini menjadi sasaran utama:
Laporan terbaru dari beberapa kantor polisi di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara menunjukkan lonjakan aduan penipuan berkedok paket gratis ini. Beberapa korban mengaku kehilangan saldo rekening hingga jutaan rupiah setelah mengisi data pribadi di situs palsu tersebut.
“Kami sudah menerima lebih dari 50 laporan sejak awal tahun 2025, dengan total kerugian mencapai Rp500 juta lebih,” ungkap salah satu perwira di Polda Kaltim.
Agar masyarakat lebih waspada, berikut ciri-ciri pesan penipuan paket gratis yang umum ditemukan:
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur tawaran paket gratis yang datang melalui pesan singkat atau chat pribadi.
Selain itu, Polri juga meminta warga segera melaporkan jika menerima pesan mencurigakan agar bisa ditindaklanjuti dan ditelusuri sumbernya.
“Jangan pernah mengklik link sembarangan atau memberikan data pribadi melalui pesan WhatsApp atau SMS. Verifikasi langsung ke perusahaan pengiriman jika merasa ragu,” tegas Kepala Humas Polri.
Untuk menghindari jadi korban penipuan, berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa diterapkan: